Sabtu, 17 Januari 2009

Pendidikan Anti-Korupsi untuk Menyelamatkan Bangsa

Masa depan bangsa yang menjajikan terletak pada siap tidaknya perubahan dalam diri pemudanya. Dalam pepatah arab dinyatakan, “sesungguhnya di tangan pemuda terbebani persoalan bangsa” dan “pemuda hari ini (harus) merupakan pemimpin masa mendatang”. Tatkala, kondisi remaja baik, maka masa depan bangsa dapat dijamin eksistensinya. Tatkala sebaliknya, kerumunan remaja hanya akan menjadi beban dan menambah masalah yang dihadapi bangsa, yang tentunya dalam berbagai sektor kehidupan.
Dalam konsolidasi kepemimpinan, tatanan budi pekerti dan intelektual seperti yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara, penting sebagai “aset” atau modal tiap-tiap individu. Yang pada gilirannya akan menjadi social and cultural capital yang berguna bagi aset nasional. Konsolidasi itu amat penting diimplementasikan dalam pendidikan yang tepat. Pada kenyataannya, kebanyakan generasi muda masih belum menyadari hal tersebut. Yang banyak ditanamkan ialah kepribadian konsumeristik dalam lintasan budaya pop yang menggiurkan; yang banyak dipupuk ialah kebutuhan “leher ke bawah”, sedangkan letak akal budi dari “leher ke atas” kerap disepelekan melalui citra yang rendah.
Pemuliaan akal budi penting untuk mencegah arus kebangkrutan regenerasi. Generasi awal terbentuknya negara-bangsa Indonesia tumbuh dari geliat kepemimpinan pemuda yang mampu mengarungi samudera yang dalam dan penuh dengan gelombang kehidupan. Kita tidak boleh melupakan pelajaran sejarah. Benar apa yang dikatan Soekarno tentang pentingnya bangunan karakter kebangsaan (nation character building).
Mempersiapkan bangunan karakter kebangsaan amat penting sebagai pondasi bagi kehidupan bangsa itu sendiri. Dalam konteks saat ini, karakter bangsa yang mengalami krisis ialah merebaknya penyakit korupsi dalam ragam bentuknya. Pepatah corruptio optimi passima hendaknya dijadikan peringatan akan kebangkrutan bangsa akibat korupsi. Mulai dari kultur pejabat, sistem, hingga budaya yang korup terus saja berkembang tanpa reduksi dan detoksifikasi.
Kita tidak menginginkan hal tersebut terwarisi dan tersisemasi dalam konstruksi masa depan generasi bangsa. Oleh karena itu, hal terpenting disemai sejak dini ialah pendidikan anti-korupsi (education against corruption). Walaupun jenis pendidikan ini masih menjadi uji coba di beberapa perguruan tinggi, tetapi harusnya menjadi sebuah uji coba yang dilakukan secara nasional, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Bahkan lebih dari itu, ia bisa disiapkan dalam civic education yang berlaku secara formal maupun informal kepada setiap warga. Ingat bahwa warga berhak mengenyam pendidikan dan pendidikan karakter bersifat mutlak dalam membangun akal budi yang sehat.
Lebih dari suapan kognitif, hal yang menyangkut pendidikan anti-korupsi dan pembentukan karakter semestinya diterapkan melalui instrumen yang bersifat afektif. Sistem pendidikan kita masih menyisakan problem yang melulu menjejal pengetahuan secara kognitif, sedangkan dari segi afeksi moralitas kurang disentuh. Nilai yang dibangun bukan dari deretan angka-angka kuantitatif yang terkadang bisa memanipulasi, melainkan melalui kualitas sikap dan perilaku yang mampu dimengerti akan pentingnya keadaban sosial (public civility).
Menanamkan nilai memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ia membutuhkan pemikiran, waktu dan kerja yang ekstrakeras. Setiap warga, dalam penanaman nilai tersebut, dituntun menemui kesadaran kritis dalam memanifestasikan kejujuran, kesanggrahan, solidaritas dan pentingnya etos. Setiap warga dituntun untuk memedomani arti keadaban dan kemaslahatan publik (bonum commune) melalui spirit yang proaktif dan dinamis. Yang diharapkan terbentuk ialah realisasi dalam sebuah slogan “Zero tollerance to corruption”. Lebih dari sekedar kata-kata, tetapi sebuah jiwa! Tatkala instrumen pendidikan kita mengajari akan pentingnya pendidikan antikorupsi, sesungguhnya inilah titik awal menuju Indonesia yang gemilang. SEMOGA!

1 Komentar:

Pada 28 Januari 2009 pukul 15.29 , Blogger Aris Budi Atmojo mengatakan...

ini tho blogmu din????
kurang menarik. mana tulisan khasmu???
selalu jari "Res Publica Litteraria" yah...
'Menjadi masyarakat terdidik-mendidik yang gemar memajukan peradaban

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda